Navigasi

Analisis Wacana

BAB I
PENDAHULUAN



1.1   Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia berinteraksi dengan orang lain. Dengan menguasai berbagai bahasa, maka manusia bisa membuka jendela dunia dan memperoleh pengalaman yang sebelumnya mungkin tak terpikir bahkan membayangkannya.
Bahasa memiliki peranan yang sangat penting guna menuangkan ide pokok pikirannya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Ketika sesorang mengemukakan gagasan, yang perlu diperhatikan bukan hanya kebahasaan melainkan juga harus ada pemahaman. Dengan adanya pemahaman, maksud dan tujuan pun akan tersampaikan secara jelas.

1.2   Masalah
Pada makalah ini, yang menjadi permasalahan adalah tentang relasi gabungan, hubungan antarkalimat, dan konteks dalam memahami suatu wacana.

1.3   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui relasi gabungan pada wacana, hubungan antarkalimat, konteks pada wacana itu, dan  sebagai bahan presentasi pada mata kuliah ‘Analisis Wacana’ Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.




BAB II
PEMBAHASAN



Dalam wacana lisan atau tulisan terdapat berbagai unsur seperti pelaku perbuatan, penderita, perbuatan, pelengkap perbuatan, perbuatan yang dilakukan oleh pelaku dan tempat perbuatan. Contoh,
Wati duduk di serambi muka, wajahnya sayu dan matanya tergenang oleh air mata kepedihan. Kata terakhir dari mas Gombloh telah menyobek-nyobek kepingan hatinya yang makin hari menipis..

2.1 Relasi  Gabungan
Ada kalimat,’Dia sanggup. Mereka berjalan pelan-pelan.’
Kata,’Dia sanggup’ tidak diketahui maknanya. Kita baru dapat mengintrpretasikan kalimat itu sesudah membaca kalimat kedua. Jika kita ditanya berapa macamkah relasi antara kalimat pertama dengan kedua ?
Dia sanggup adalah kalimat ellips. Mereka adalah referensi dari mereka yang tidak diucapkan pada kalimat pertama., dan yang terakhir perulangan kata mereka pada kalimat kedua. Dengan demikian terdapat 3 hubungan antara kalimat pertama dengan yang kedua, yaitu ellips, referensi, dan leksikal repetisi.
Kalimat itu secara lengkap : Dia sanggup (mengejar mereka). Mereka berjalan perlahan-lahan. Relasi yang kita dapati disini adalah relasi gramatikal dan relasi leksikal. Ellips adalah relasi gramatikal sedang perulangan kata seperti kata mereka di atas, adalah relasi leksikal. Substitusi dan referensi adalah relasi gramatikal juga.
Contoh pada pusi :
Bila sampai waktuku
Ku mau tak seorang pun merayu
Ada dua relasi, yaitu konjungsi dan perulangan. Kata bila pada baris pertama menghubungkan kedua baris itu, dan kata ‚ku’ pada baris kedua sebagai perulangan kata’ ku’ pada baris pertama.
Kita tidak dapat menafsirkan satu kalimat di antaranya tanpa mengetahui kalimat yang lain. Ada  juga kalimat yang tidak diikat secara formal, tetapi kita tahu berhubungan karena ada relasi pragmatiknya.
Contoh :
Ada orang sedang mengetuk pintu.
Saya sedang mandi.
Pada kedua kalimat ini tidak terdapat relasi (penghubung), referensi, substitusi, ellips, maupun konjungsi yang lain.

2.2 Hubungan Antarkalimat
Hubungan ini terdiri dari 4, yaitu :
1. True and Connected (Benar dan berhubungan)
Contohnya :
  1. Dia lulus ujian akhir.
  2. Dia rajin belajar.
2. True and Disconnected (Benar, tapi tidak berhubungan).
Contohnya :
  1. Kalimat-kalimat dapat dihubungkan dengan berbagai cara.
  2. Kalimat perintah adalah kalimat dengan memakai intonasi perintah.
3. False and Connected (Salah, tetapi berhubungan)
Contoh :
  1. Pelajaran bahasa Indonesia diberikan sejak TK sampai perguruan tinggi.
  2. Pada perguruan tinggi pelajaran bahasa Indonesia diberikan 8 semester.
4. False and Disconnected (Salah dan tidak berhubungan)
a. Cara-cara menghubungkan kalimat ada 10 macam.
b. Kalimat-kalimat tanya berintonasi sama dengan kalimat berita.
Hubungan antarunsur yang membentuk wacana dinyatakan oleh Moeliono, dkk (dalam Djajasudarma.2006: 3) adalah apa yang disebut rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi antara kalimat-kalimat itu ; atau wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain membentuk satu kesatuan.

2.3 Konteks
Konteks wacana terdiri atas berbagai unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, peristiwa, topik, bentuk amanat, kode, dan sarana (dalam Dardjowidjojo.2003 : 421).
Konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam (dalam Lubis, 1993: 58), yaitu :
  1. Konteks fisik, yang meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi, objek yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu dan tindakan atau perilaku dari para peran dalam peristiwa komunikasi itu.
  2. Konteks epistemis atau latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh pembicara atau pendengar.
  3. Konteks linguistik, yang terdiri dari kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi.
  4. Konteks sosial, yaitu relasi sosial dan latar seting yang melengkapi hubungan antara pembicara dengan pendengar.
Keempat konteks tersebut mempengaruhi kelancaran komunikasi. Ciri-ciri konteks harus dapat diidentifikasikan untuk menangkap pesan si pembicara. Dengan konteks linguistik, kita dapat berkomunikasi dengan baik, namun harus dilengkapi dengan konteks fisiknya, yaitu dimana komunikasi itu terjadi, apa objek yang dibicarakan dan begitu juga bagaimana tindakan si pembicara. Kita pun harus melengkapi dengan konteks sosial dan epistemiknya.


Presupposisi (Praanggapan)
Praanggapan (presupposition) adalah cabang dari kajian pragmatik yang berhubungan dengan adanya makna yang tersirat atau tambahan makna dari makna yang tersurat.
Menurut Kridalaksana (dalam Chaniago.2001: 4.20), praanggapan adalah syarat yang diperlukan bagi benar tidaknya suatu kalimat. Misalnya ia berdagang adalah praanggapan bagi kebenaran kalimat barang dagangannya sangat laris.
Contoh : Berapa batang sehari kamu merokok ?
Kalimat itu adalah bentuk kalimat tanya yang mengandung makna menanyakan jumlah batang rokok yang diisap oleh seseorang dalam sehari. Makna tersebut disebut juga sebagai makna yang tersurat atau secara eksplisit. Ternyata  kalimat itu tidak hanya mengandung makna tersurat, tetapi juga mengandung makna yang tersirat/ implisit. Dari kalimat itu kita dapat beranggapan, “ Kamu biasa atau suka merokok.”
Bentuk pragmatik berdasarkan praanggapan terdiri dari 2 bentuk, yaitu :
1.       Praanggapan Semantik
Praanggapan semantik adalah praanggapan yang dapat ditarik dari pernyataan atau kalimat melalui leksikon atau kosakatanya.
Contoh :
Seseorang mengatakan :
  1. Ade tidak jadi pergi.
  2. Sepeda motornya mogok.
Dari kata-kata yang ada dalam pernyataan itu dapat ditarik praanggapan sebagai berikut ;
  1. Ade seharusnya pergi.
  2. Ade mempunyai sepeda motor.
2.       Praanggapan Pragmatik
Praanggapan pragmatik adalah anggapan yang ditarik berdasarkan konteks suatu kalimat atau pernyataan itu diucapkan. Konteks disini dapat berupa situasi, pembicara, lokasi, dan lain-lain.
Contoh :
Suatu waktu ada seorang tamu ke rumah Tono. Tono pun mempersilakannya masuk dan duduk. Ternyata tamu itu teman Tono di SMA dulu. Dia bernama Santo yang sampai saat ini belum bekerja.
Santo :“ Aku merasa capai sekali karena berjalan kaki terlalu jauh. Tidak ada kendaraan.“
Tono  :“ (Segera ke belakang mengambil air minum dan ia mempersilakan Santo meneguknya).
Santo     :“ Terima kasih. Kau tahu benar aku merasa haus.“
Saat bercerita, Tono berpraanggapan :
  1. Ada sesuatu yang akan diminta Santo.
  2. Santo ingin minum.
Ada juga praanggapan semantiknya, yaitu ;
  1. Santo merasa capai.
  2. Tidak ada kendaraan di jalan.
Soemarno (dalam Chaniago.2001: 4.21) memberikan contoh praanggapan :
1. Gambaran yang tertentukan
Anak di belakang rumah itu anak manja.
Praanggapannya : Ada anak di belakang rumah.
2. Kata verbal yang mengandung kenyataan
Marta (tidak) menyesal membuang benda itu.
Praanggapan : Marta membuang benda itu.
3. Kata verbal implikatur
Saya berhasil menipu anak itu.
Praanggapan : Saya menipu anak itu.

4. Kata verbal yang mengganti keadaan
Dia sudah/belum selesai membaca surat itu.
Praanggapan : Dia membaca surat itu.
5. Pengulang
Dia kembali berkuasa.
Praanggapan : Dia pernah berkuasa.
6. Kata waktu
Aku (tidak) mencuci piring ketika Ali tidur.
Praanggapan : Ali tidur.
7. Kalimat yang ada topik atau fokusnya.
Yang menyanyi itu bukan Ali.
Praanggapan : Ada orang yang menyanyi.
8. Kata bandingan
Anak saya (tidak) bisa melompat sejauh Ali.
Praanggapan : Ali bisa melompat.
9. Apposisi renggang
Pencuri itu, yang sedang ditangkap itu, masih muda.
Praanggapan : orang itu ditangkap.
10. Kondisional yang berlawanan
Kalau/ Andaikata anak itu tidak bangun sebelum jam 5, dia (tidak) akan melihat pencuri itu.
Praanggapan : Anak itu bangun sebelum jam 5.
11. Praanggapan pertanyaan
Kamu membeli apa di toko itu ?
Praanggapan : Kamu membeli sesuatu di toko itu.
Tuturan yang berbunyi,’ Mahasiswa tercantik di kelas ini pandai sekali’, mempraanggapkan adanya seorang mahasiswi yang berparas sangat cantik. Apabila pada kenyataannya memang ada seorang mahasiswi yang berparas sangat cantik di kelas itu, tuturan di atas dapat dinilai benar atau salahnya. Tuturan itu tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberitahu si mitra tutur bahwa ia harus melakukan seperti yang dimaksudkan di dalam tuturan itu melainkan ada sesuatu yang tersirat dari tuturan itu yang harus dilakukannya, seperti misalnya mencari alamat kantor atau nomor telepon si penutur. (dalam Rahardi. 2009: 42).
Gottlob Prege mengatakan bahwa nama (atau kata benda yang dipakai baik sederhana atau majemuk mempunyai suatu rujukan (reference). Jika orang mengatakan Kepler meninggal dalam kesengsaraan, maka ada pranggapan bahwa nama Kepler merujuk kepada suatu benda atau kepada seseorang yang nyata (dalam Lubis, 1993: 59).
Contoh :
Kuliah analisis wacana diberikan di semester V.
Praanggapannya adalah : (1) Ada kuliah analisis wacana (2) Ada semester V
Praanggapan Strawson ini adalah pranggapan pragmatik yang berbeda dengan praanggapan semantik. Suatu kalimat A berpraanggapan semantik, jika :
  1. Dalam semua keadaan dimana A benar, maka B juga benar.
  2. Dalam semua keadaan dimana A tidak benar, maka B (tetap) benar.
Perbedaannya adalah pada praanggapan semantik hubungan antarkalimat, sedangkan pada praanggapan semantik adalah hubungan antara pernyataan.
Teori praanggapan pragmatik biasanya menggunakan dua konsep dasar, yaitu kewajaran dan pengetahuan bersama. Bila praanggapan dapat ditarik dari pernyataan itu melalui leksikonnya, maka praanggapan itu adalah praanggapan semantik. Bila hanya dapat ditarik melalui konteksnya, maka praanggapan itu adalah praanggapan pragmatik.
Contoh praanggapan pragmatik :
‘Harganya murah benar’, sebagai jawaban pertanyaan,” Berapa harganya?”
Praanggapan tak dapat kita berikan kalau konteksnya tidak kita ketahui karena mungkin kata ‘murah’ itu berarti ‘mahal sekali’. Praanggapan adalah sesuatu yang dijadikan  oleh pembicara sebagai dasar pembicaraan.
Asorsi adalah pikiran si pembicara tentang  praanggapan itu. Contoh : Tidak aneh dia setuju. Praanggapannya ‘dia setuju’. Asorsinya adalah tidak aneh.

Inferensi (Implikatur)
Berbeda dengan pengacuan, inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat dalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis.
Grice (dalam Wijana. 1996: 37) mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan bersangkutan. Proposisi yang mengimplikasikan itu disebut implikatur.
Inferensi pembicaraan (percakapan) adalah proses yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Dengan itu si pendengar dalam percakapan menduga kemauan si pembicara, dan dengan itu pula si pendengar memberikan responnya. (dalam Lubis,1993: 68). Menurut Gunpers, inferensi percakapan itu ditentukan oleh situasi dan konteks, tidak selalu oleh kata-kata pendukung kalimat itu.
Kalimat : Dia belum. Atas pertanyaan,’Si A sudah sampai’, menunjukkan bahwa secara semantik apa yang dimaksud dengan ‘Dia belum’ tidak diketahui. Maksud kalimat ‘Dia belum’ itulah yang dikatakan implikatum (apa yang diimplikasi) dan gejala itu disebut implikatur. Konsep implikatur dipakai untuk menerangkan perbedaan yang sering terdapat antara ‘apa yang diucapkan’ dengan apa yang diimplikasikan (implikatum) (dalam Lubis,1993: 70).
Menurut Levinson (dalam Lubis, 1993: 70) ada 4 macam faidah konsep  implikatur, yaitu :
  1. Dapat memberikan penjelasan makna atau fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistik.
  2. Dapat memberikan penjelasan yang tegas tentang perbedaan lahiriah dari yang dimaksud si pemakai bahasa.
  3. Dapat memberikan pemerian semantik yang sederhana tentang hubungan klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung yang sama.
  4. Dapat memberikan berbagai fakta yang secara lahiriah kelihatan tidak berkaitan, malah berlawanan (seperti metafora).
Grice (dalam Lubis 1993: 72) menyatakan bahwa implikatur percakapan terdiri dari prinsip koperatif (apa yang diperlukan disaat terjadinya percakapan itu sesuai dengan tujuan percakapan) dan maksim percakapan (agar berbicara seperlunya, jelas, dan sesuai dengan yang dipermasalahkan).
Contoh :
(a)    Kami membeli rumah  (b) Pintunya dari kayu jati.
Yang hilang disini : © Rumah itu mempunyai pintu.
Dengan demikian pintu pada (c) itu adalah inference lain yang tidak diucapkan. Kalimat (c) itu tidak perlu diucapkan karena tidak perlu, semua orang tahu karena tiap-tiap rumah mempunyai pintu. Para ahli mengatakan bahwa jika hubungan itu ada secara otomatis, hubungan itu tidak dapat dikatakan inference. Contoh :
(a)    Di kampung itu banyak kerbau (b) Tanduknya panjang-panjang.

Informasi Lama dan Baru
Tiap-tiap kalimat mempunyai inferensinya. Tiap-tiap kalimat pasti ada sesuatu yang yang telah diketahui si pendengar. Praposisi adalah informasi yang telah diketahui oleh pembicara dan pendengar. Sesuatu yang telah diketahui oleh pembicara/ pendengar itu dinamakan informasi.
Contoh :
Kalau seseorang mengatakan,“ Saya lapar, maka informasi lamanya adalah saya dan informasi barunya adalah keadaan informasi lama itu, yaitu lapar. Bagian ujaran yang dapat diketahui dari : wacana yang telah lewat (secara anafora atau implikatur), dari berbagai aspek situasi tempat ujaran itu terjadi (unsur yang ditentukan oleh tempat dan waktu atau juga unsur yang menunjuk pelaku-pelaku yang terdapat dalam ujaran itu), dan dari pengetahuan kita sendiri.
Halliday (dalam Lubis, 1993: 79) menyatakannya dengan given yang merupakan bagian ujaran yang dapat diketahui dari : (1) wacana yang telah lewat (anafora/implikatur), (2) berbagai aspek situasi tempat ujaran itu terjadi, dan (3) pengetahuan kita sendiri. New adalah bagian ujaran yang tidak dapat diketahui dengan cara itu.
Dengan kata lain, given adalah sesuatu yang dapat kita ketahui secara anaforik atau dari situasinya. Given new itu bukan per wacana, tetapi per-kalimat, yang ditentukan oleh intonasi atau tekanan yang diberikan si pembicara.
Hubungan antara informasi lama-baru dengan subjek, yaitu ; subjek digunakan untuk struktur luar kalimat, sedangkan informasi lama-baru ini adalah struktur semantiknya.
Contoh : (1) Saya menulis surat, (2) Yang menulis surat saya, (3) Surat saya tulis, (4) Yang saya tulis surat, (5) Siapa namanya, (6) Kemana kau pergi? (7) Bagaimana hasilnya? (8) Tulislah surat itu? (9) Bacalah Koran itu ! (10) Ikutilah ujian itu ! (11) Berangkatlah (kau) sekarang!
Kesebelas kalimat ini terdiri dari 4 buah kalimat tanya (5-8) dan 4 kalimat perintah (9-11) mempunyai subjek. Semua subjek pada ke-11 adalah informasi lama, sedangkan predikatnya adalah informasi baru.
Sebuah kalimat dikatakan mempresuposisikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (yang dipresuposisikan) mengakibatkan kalimat yang pertama (yang mempresuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah.
Contoh : (a) Buku Siti Nurbaya sangat memikat (b) Istri pejabat itu cantik sekali.
Kalimat (a) mempresuposisikan bahwa ada buku yang berjudul Siti Nurbaya. Bila memang ada buku yang berjudul seperti itu, kalimat (1) dapat dinilai benar dan salahnya. Akan tetapi, bila tidak ada buku yang berjudul Siti Nurbaya kalimat (a) tidak dinilai benar dan salahnya. Sementara itu, kalimat (b) mempresuposisikan pejabat itu mempunyai istri. Bila memang pejabat yang dimaksud mempunyai istri, kalimat (b) dapat dinilai benar dan salahnya. Akan tetapi, bila sebaliknya menjadi pernyataan, kalimat (b) tidak dapat ditentukan kebenarannya.


BAB III
KESIMPULAN


Kita tidak dapat menafsirkan satu kalimat di antaranya tanpa mengetahui kalimat yang lain. Ada  juga kalimat yang tidak diikat secara formal, tetapi kita tahu berhubungan karena ada relasi pragmatiknya.
Praanggapan (presupposition) adalah cabang dari kajian pragmatik yang berhubungan dengan adanya makna yang tersirat atau tambahan makna dari makna yang tersurat.
Inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat dalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis.
Hubungan antarunsur yang membentuk wacana dinyatakan oleh Moeliono, dkk (dalam Djajasudarma.2006: 3) adalah apa yang disebut rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi antara kalimat-kalimat itu
Tiap-tiap kalimat mempunyai inferensinya. Tiap-tiap kalimat pasti ada sesuatu yang yang telah diketahui si pendengar. Praposisi adalah informasi yang telah diketahui oleh pembicara dan pendengar. Sesuatu yang telah diketahui oleh pembicara/ pendengar itu dinamakan informasi.
Tiap-tiap kalimat mempunyai inferensinya. Tiap-tiap kalimat pasti ada sesuatu yang yang telah diketahui si pendengar. Praposisi adalah informasi yang telah diketahui oleh pembicara dan pendengar. Sesuatu yang telah diketahui oleh pembicara/ pendengar itu dinamakan informasi.




DAFTAR PUSTAKA



Chaniago, Sam Mukhtar dkk. 2001. Pragmatik. Jakarta : Universitas Terbuka.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
       Pustaka.
Djajasudarma, T. Fatimah. 2006. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur.
       Bandung : Refika Aditama.
Rahardi, R. Kunjana. 2009. Pragmatik Kesantunan Imperaktif Bahasa Indonesia.
       Jakarta : Erlangga.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.
Lubis, A. Ahmad Hasan. 1993. Analissi Wacana Pragmatik. Bandung : Angkasa.







RELASI GABUNGAN, HUBUNGAN ANTARKALIMAT, DAN KONTEKS DALAM WACANA


Oleh                                      : Meliana Aryuni
Dosen Pengampu            : Prof.Dr. Hj. Ratu Wardarita, M.Pd.





PROGRAM STUDI  BAHASA INDONESIA
PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI
PALEMBANG
2010

Analisis Puisi Semiotik

BAB I
PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang
Manusia hidup dengan tanda-tanda. Tanda-tanda ini ternyata telah digunakan manusia untuk berkomunikasi dari zaman dahulu hingga sekarang. Setiap orang yang mau berkomunikasi harus mengerti dengan tanda-tanda yang ada karena dia dikelilingi oleh tanda, ditentukan oleh tanda bahkan diatur oleh tanda. Dengan mengetahui tanda dalam komunikasi diharapkan komunikasi antara satu dengan yang lain dapat terjalin dengan baik.
Sama halnya dengan komunikasi, karya sastra pun memiliki tanda-tanda sehingga orang yang membacanya akan mengerti maksud karya tersebut. Pengkajian karya sastra dengan tanda-tanda ini dilakukan oleh para pakar semiotik struktural, yang mengkaji sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.

1.2   Masalah
Pada tugas akhir ini, yang menjadi objek analisis secara semiotik adalah puisi Amir Hamzah yang berjudul Kusangka.

1.3   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pendekatan semiotik dalam menganalisis puisi ‘Kusangka’ karya Amir Hamzah dan sebagai tugas akhir pada mata kuliah ‘Kajian Sastra’ Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Semiotik (Semiotika)
Nama lain semiotik adalah semiologi dari bahasa Yunani semeion yang bermakna tanda. Semiotik atau semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/ masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan, atau konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam lapangan kritik sastra, penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebuah penggunaan bahasa yang bergantung pada (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacam-macam cara (modus) wacana mempunyai makna Preminger, dkk.,1974:980 (dalam Pradopo.2003).

2.2 Pendekatan Semiotik

Secara padat Dolezel, Stout dan Ratna (dalam Hudayat.2007:58), menjelaskan bahwa strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra, untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanda yang dipergunakan dalam karya sastra.
Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning), arti bahasa dalam sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dalam karya sastra, arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri.
Jadi, yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa, suasana, perasaan, intensitas, arti tambahan (konotasi), daya liris, dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra.
Menurut Pradopo studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antar unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra
Dilihat dari segi cara kerjanya, terdapat 3 semiotik, yaitu :
1. Sintaksis semiotika, yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda
    dengan tanda-tanda yang lain
2. Semantik semiotik, studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan
     acuannya
3. Pragmatik semiotik, studi dengan memberikan perhatian pada hubungan antara
    pengirim dan penerima.
Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (dalam Hudayat.2007:62) yaitu analisis intrinsik (analisis mikrostruktur) dan analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur).
Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (dalam Hudayat.2007:62) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek, yaitu pengarang (ekspresif), semestaan (mimetik), pembaca (pragmatik), dan objektif (otonom).
Dalam sastra arti bahasa itu mendapat arti tambahan atau konotasi. Lebih-lebih dalam puisi, konvensi sastra sangat jelas memberi arti tambahan kepada arti bahasanya. Misalnya tipografi (tata huruf) secara linguistik tidak mempunyai arti, tetapi mempunyai makna dalam puisi (sastra) karena konvensinya.
2.3 Metode Semiotik dalam Penelitian Sastra
Dalam sastra ada jenis-jenis sastra (genre) dan ragam, jenis sastra prosa dan puisi, prosa mempunyai ragam: cerpen, novel, dan roman (ragam utama). Dalam menganalisis karya sastra, peneliti harus menganalisis tanda itu dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan tanda-tanda atau struktur tanda-tanda dalam rangka sastra itu mempunyai makna.
Sebagai contoh, genre puisi merupakan sistem yang mempunyai sistem tanda, yang mempunyai satuan tanda (yang minimal) seperti kosakata, bahasa kiasan (personifikasi, simile, metafora, dll.) Tanda-tanda itu mempunyai makna berdasarkan konvensi-konvensi dalam sastra. Di antara konvensi-konvensi puisi adalah konvensi kebahasaan : bahasa kiasan, sarana retorika, dan gaya bahasa pada umumnya. Di samping itu ada konvensi ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Ada pula konvensi visual : bait, baris sajak, enjabemen, rima, tipografi, homolangue.
Di samping metode yang telah diurai, ada metode yang lebih khusus untuk meneliti karya sastra secara semiotik pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik atau retroaktif.
Dikemukakan oleh Riffaterre (dalam Pradopo.2003:71) bahwa puisi itu dari dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera dan konsep estetik yang selalu berubah dari periode ke periode. Ketidaklangsungan ekspresi yang tidak langsung, yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secara langsung, dengan cara lain.
Ketidaklangsungan ekspresi itu menurut Riffaterre disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti (displacing of meaning ), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning).

A. Penggantian Arti (Displacing of Meaning)
Penggantian arti ini disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi dalam karya sastra. Metafora dan metonimi dalam arti luasnya untuk menyebut bahasa kiasan pada umumnya. Metafora itu bahasa kiasan yang menggunakan atau mengganti sesuatu hal yang tidak menggunakan kata perbandingan ; bagai, seperti, bak, dan sebagainya.

B. Penyimpangan Arti (Distorting of Meaning)
Riffaterre menyatakan bahwa penyimpangan arti itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Ambiguitas dapat berarti kegandaan arti sebuah kata, frase, ataupun kalimat. Kedua, kontradiksi berarti mengandung pertentangan, berlawanan. Ketiga, nonsense adalah ‘kata-kata’ yang secara linguistik tidak memiliki arti, hanya berupa rangkaian bunyi dan tidak terdapat dalam kamus.

C. Penciptaan Arti (Creating of Meaning)
Penciptaan arti ini merupakan mengorganisasian teks, di luar linguistik. Di antaranya pembaitan, enjambemen, persajakan (rima), tipografi, dan homologues.
Julia Kristeva (dalam Pradopo.2003:78) mengemukakan bahwa tipe teks itu, termasuk sastra merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi teks-teks lain.

2.4 Analisis Semiotik Puisi Kusangka Karya Amir Hamzah
Ada kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan yaitu:
1. Pilihan Kata
Kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang terdapat dalam puisi “Kusangka” karya Amir Hamzah

KUSANGKA

Kusangka cempaka kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri…
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan waswas silih berganti

Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari…
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali

Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak…
Melati yang ada
Pandai tergelak…

Mimpiku seroja terapung di paya
Teratai putih awan angkasa…
Rupanya mawar mengandung lumpur
Kaca piring bunga renungan

Igauanku subuh, impianku malam
Kuntum cempaka putih bersih…
Kulihat kumbang keliling bersih
Kelopakmu terbuka menerima cumbu

Kusangka hauri bertudung lingkup
Bulu mata menyangga panah asmara
Rupanya merpati jangan dipetik
Kalau dipetik menguku segera

Amir Hamzah menggunakan kata-kata yang kurang dipahami misalnya dalam sajak yang berjudul “Kusangka”. Penyusunan kata-katanya tepat dan pemilihan untuk pembentukan sebuah sajak memperhatikan kesesuaian kata yang digunakan serta penyusunan antar kata sangat indah.

2. Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencapai aspek kepuitisan atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif. Bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Bahasa sajak yang terdapat dalam puisi “Kusangka” karya Amir Hamzah adalah sebagai berikut,
a) Metafora
Adalah majas yang memperbandingkan suatu benda dengan benda lain. Kedua benda yang diperbandingkan itu mempunyai sifat yang sama.
Kuntum cempaka putih bersih… Kuntum cempaka disamakan dengan wanita yang suci/ belum dijamah.
Kelopakmu = kesucian wanita
b) Pesonifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah hidup. Dalam sajak terdapat dalam,
Melati yang ada
Pandai tergelak…

c) Majas Ironi
Majas ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir.

Teratai putih awan angkasa…
Rupanya mawar mengandung lumpur
Kusangka cempaka kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri…

3. Citraan
Citraan adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi.
Citraan dalam puisi terdapat 7 jenis citraan, yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pengecapan, dan citraan suhu. Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan kata-kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam sajak “Kusangka” citraan yang digunakan misalnya yaitu citraan penglihatan terdapat dalam bait; Kuntum cempaka putih bersih…
Citraan penciuman ; Harum mula terserak…
Citraan gerak pada ; Kulihat kumbang keliling bersih

4. Sarana Retorika
Sarana retorik pada dasarnya merupakan tipu muslihat pikiran yang mempergunakan susunan bahasa yang khas sehingga pendengar merasa dituntut untuk berpikir. Dalam menyampaikan sebuah ide atau gagasan Amir Hamzah cenderung pada aliran realisme dan ekspresionis.


5. Hubungan Intertekstual “Penerimaan” dengan “Kusangka”
Untuk mendapat makna penuh sebuah sajak, tidak boleh melupakan hubungan sejarahnya, bik dengan keseluruhan sajak-sajak peyair sendiri, sajak-sajak sesamanya, maupun dengan sajak sastra zaman sebelumnya( Teeuw, 1983: 65). Dibawah ini sajak-sajaknya, yaitu sajak “Penerimaan” karya Chairil Anwar dan “Kusangka” karya Amir Hamzah.
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

KUSANGKA
Kusangka cempaka kembang setangakai
Teryata melur telah diseri.......
Hatiku remuk mengenangka ini
Wasangka dan was-was silih berganti.
Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari.......
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak.......
Melati yang ada
Pandai tergeletak.......
Mimpiku seroja terapung di paya
Teratai putih awan angkasa......
Rupanya mawar mengandung lumpur
Kaca piring bunga renungan......
Igauanku subuh, impianku malam
Kuntum cempaka putih bersih......
Kulihat kumbang keliling berlagu
Kelopakmu terbuka menerima cembu.
Kusangka hauri bertudung lingkup
Bulu mata menyangga panah Asmara
Rupanya merpati jangan dipetik
Kalau dipetik menguku segera
(Buah Rindu, 1959:19)
Sajak Chairil Anwar merupakan penyimpangan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pandangan realistiknya. Sajak “Kusangka” menunjukkan kesejajaran gagasan yang digambarkan dalam enam sajak tersebut. Amir Hamzah menggunakan ekspresi romantik secara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetamorkan sebagai merpati.
Dari keenam bait tersebut disimpulkan bahwa si aku mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sesungguhnya sudah tidak murni lagi. Sudah dijamah oleh pemuda lain/ sudah tidak perawan lagi (‘Rupanya teratai patah kelopak/Dihinggapi kumbang berpuluh kali’. Kulihat kumbang keliling berlagu/kelopakmu terbuka menerima cembu’). Hal itu menimbulkan kekeewaan dan menyebabkan hati si aku remuk. Wasangka dan was-was silih berganti (bait 1). Dengan demikian, si aku tidak mau bersama gadis yang sudah tidak murni lagi, sebab akan terkena kuku “merpati” itu (bait 7).
Gadis yang masih murni (disangka murni) diumpamakan cempaka kembang (bait 1), baharu kembang belum terkena sinar matahari (bait 2), cempaka harum(bait 3), seroja terapung di paya putih seperti awan(bait 4), dan seperti bidadari (hauri) bertudung lingkup yang bulu matanya menambah panah asmara(bait 6).
Gambaran tersebut bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya yang sangat menyakitkan hati si aku dan sangat kecewa setelah mengetahui kisah yang sebenarnya. Gambaran gadis tersebut sudah tidak murni lagi diumpamakan melur telah diseri(bait 1), teratai patah kelopak dihingapi kumbang berpuluh kali(bait 2), merpati yang pandai bergelak(bait 3), mawar yang mengandung lumpur(bait 4), dan merpati yang mengaku segera(bait 6).
Jadi yang menanggapi masalah tersebut si aku merasa kecewa karena pikiran romantik bahwa gadis yang dicintainya itu harus masih murni dan tetap murni, setia pada si aku, tidak boleh menerima cinta orang lain, namun kenyataan berlainan. Tidak sesuai dengan keinginan si aku. Sikap romantik digambarkan dengan bahasa yang indah, mengambil objek dari alam sebagai perumpamaan, sehingga seperti natural.
Sebaliknya Chairil Anwar, dalam sajaknya itu menampilkan tampak yang lain dalam mendeskripsikan atau menanggapi gadis yang sudah tidak murni lagi. Sangat berlawanan dengan apa yang ditampilkan oleh Amir Hamzah. Ia berpandangan realistik, si aku menerima kembali wanita (kekasihnya, istrinya) yang barangkali telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Si aku mau menerima kembali asal mau kembali kepada si aku tanpa da rasa curiga. Si aku masih sendiri, tidak mencari wanita lain sebagai pasangan hidupnya karena masih menunggu kembalinya wanita yang dicintainya itu.

2.5 Pembacaan Semiotik : Heruistik dan Hermeneutik atau Retroaktif
Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang (retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya. Pembacaan heuristik adalah pembacaan “tata bahasa” ceritanya, yaitu pembacaan dari awal sampai akhir cerita secara berurutan. Untuk mempermudah pembacaan ini dapat berupa pembuatan sinopsis cerita. Pembacaan heuristik adalah penerangan kepada bagian-bagian cerita secara berurutan.

a. Pembacaan Heuristik
Dalam pembacaan heuristik ini, sajak dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk memperjelas arti bilamana perlu diberi sisipan kata atau sinonim kata-katanya ditaruh dalam tanda kurung. Begitu pun struktur kalimatnya disesuaikan dengan kalimat baku (berdasarkan tata bahasa normatif).

b. Pembacaan Retroaktif atau Hermeneutik
Pembacaan heuristik harus diulang kembali dengan bacaan retroaktif dan ditafsirkan secara hermeneutik berdasarkan konvensi sastra (puisi), yaitu sistem semiotik tingkat kedua.




BAB III
KESIMPULAN


Semiotik adalah ilmu tanda-tanda. Tanda mempunyai dua aspek, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem tanda-tanda. Penelitian sastra dengan pendekatan semiotik menggambarkan kepada kita bahwa untuk memahami karya sastra itu, kita harus memahami tanda-tanda yang ada di dalamnya meliputi arti bahasa, suasana, perasaan, intensitas, arti tambahan (konotasi), daya liris, dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra.
Analisis puisi ‘Kusangka’ karya Amir Hamzah dengan pendekatan memberi makna tentang kekecewaan seorang yang telah menganggap seorang wanita suci padahal telah dijamah oleh laki-laki lain dengan melihat penggunaan kata/ majas, sarana retorik, dan pencitraan. Analisis ini pun tidak luput dari pembacaan secara heuristik dan hermeneutik sehingga pemaknaan puisi akan didapat.













DAFTAR PUSTAKA



Hudayat, Asep Yusuf. 2007. Metode Penelitian Sastra: Modul Online. Bandung :
        Universitas Padjadjaran.
Pateda, Mansoer.2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Pradopo, Rachmat Djoko,dkk. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogjakarta :
        Hanindita Graha Widya.
         struktural-semiotik-puisi.html.

Anakon


BAB I
PENDAHULUAN


1.1   Pendahuluan
Bahasa merupakan cerminan jiwa. Dengan bahasa kita bisa mengkomunikasikan apa yang kita inginkan dengan orang lain dan sebaliknya. Kompleksitas bahasa ternyata tidak dengan mudahnya diperoleh seseorang. Ada proses yang mengikutinya, mulai dari kanak-kanak sampai dia memahami sendiri apa yang ada di dalam bahasa.
Seseorang sudah mengerti bahasa di mulai dari masa kanak-kanak, namun bahasa yang digunakan bukan bahasa yang benar secara gramatikal dan masa itu pun anak-anak hanya bisa menirukan apa yang dia dengan dari orang-orang di sekitarnya. Dengan bertambahnya usia, pemerolehan bahasa pun beralih menjadi pembelajaran bahasa. Hal ini ditandai dengan masa anak-anak mempelajari bahasa kedua secara formal di sekolah-sekolah. Dalam pembelajaran ini, anak-anak belajar bahasa dari orang lain, tidak hanya meniru.

Sahabat adalah Orang yang Pantas Kita Sayangi?

Ini adalah kisah dari sahabatku...

Katanya sakit kalau dikhianati. Ah, aku belum pernah merasakannya. Sahabatku telah mengkhianatiku hingga membuat aku tidak bisa berteman seperti biasanya. Sahabat yang kupercaya tidak bisa menjaga kepercayaanku. Apa arti persahabatan jika kepercayaan tidak ada dalam hubungan ini. Sahabatku telah membuatku sedih dan berpikir hendak mengakhiri persahabatan ini, tapi mengapa aku tidak respek dengannya lagi setelah kejadian itu.

Sahabat yang kupercayai itu diam-diam menyatakan dia akan menikah dengan laki-laki yang dia tawarkan kepadaku. Padahal dia yang menjadi makcoblang perkenalanku dengan lelaki itu. Ah, enak benar tuh laki-laki diperebutkan dan rugi benar aku yang mau memperebutkan laki-laki seperti itu.


Sahabatku bukanlah orang yang salah seratus persen. Aku tahu itu. Aku tidak menyalahi semua ini terjadi karena dia sendiri. Tidak ! Mungkin dia juga sebagai korban. Ah, yang penting, aku tidak mau memikirkan semuanya lagi. Aku tidak mau memikirkan lelaki itu atau sahabat yang telah turun levelnya menjadi teman biasa atau teman ala kadarnya. Aku tidak membencinya. Aku juga tidak ingin membalas dendam dengan apa yang pernah dia lakukan padaku. Aku yakin bahwa setiap perbuatan akan ada balasannya.

Semoga sahabatku bahagia karena sebulan lagi dia akan menikah dengan lelaki itu.

Ramadhan

Lusaku berpuasa
Lusa pula harus kumulai semua
Bukan sekedar menahan lapar atau dahaga
Aku pun harus menahan marah dan bermaksiat

Ramadhan membawa gembira
Ramadhan dinanti dengan suka cita
Berbelanja makanan untuk sahur dan berbuka
Meraih berkah Ramadhan itu sangat penting pula
Bukan hanya menahan lapar dan dahaga
Ramadhan menahan nafsu burk agar tidak menjadi buruk
menahan gejolak yang tidak baik agar terlampiasan menjadi suatu kebaikan
Ramadhan...
Selamat datang

Cinta Itu Kembali: 11 Tahun Resign, Kini Kembali Mengajar

  Alhamdulillah, dunia akademik mulai kujalani kembali pada awal tahun pelajaran 2026/2027. Setelah sekian lama resign menjadi guru, tahun i...