Navigasi

Tampilkan postingan dengan label Syair Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair Hati. Tampilkan semua postingan

Surat Cintaku Untukmu, Wahai Diri

 

Surat cintaku
Foto oleh John-Mark/pexels.com

Untukmu diriku

di

Bumi Allah


Dear diriku,


Apa kabarmu, wahai diriku? Apakah kau masih setia kepadaku? Apakah selama kau menemaniku, kau merasa kesal kepadaku? Sepertinya aku sering melakukan kesalahan yang mungkin membuatmu kesal.


Wahai diriku,

Maafkan aku jika hampir setengah abad ini aku belum bisa maksimal menjadi teman dalam menjalani kehidupan ini. Aku sering lalai akan hakmu. Aku kadang lupa untuk menyenangkan dirimu.

Ramadhan

Lusaku berpuasa
Lusa pula harus kumulai semua
Bukan sekedar menahan lapar atau dahaga
Aku pun harus menahan marah dan bermaksiat

Ramadhan membawa gembira
Ramadhan dinanti dengan suka cita
Berbelanja makanan untuk sahur dan berbuka
Meraih berkah Ramadhan itu sangat penting pula
Bukan hanya menahan lapar dan dahaga
Ramadhan menahan nafsu burk agar tidak menjadi buruk
menahan gejolak yang tidak baik agar terlampiasan menjadi suatu kebaikan
Ramadhan...
Selamat datang

Puisi di Sekolah

Suruh saja aku baca puisi di depan orang. Membaca puisi itu mudah kok, siapa bilang membaca puisi itu susah. Gampang kok, tapi aku maunya membaca puisinya di depan anak-anak saja. Selebihnya, aku malu :mrgreen:

Untung saja, yang melihat aku membaca sebuah puisi itu hanya anak-anak, kalau orang dewasa. .. Ah, apa jadinya tuh, mungkin suaraku tidak terdengar :D Sekolah menunjuk beberapa guru untuk ikut serta dalam perlombaan membaca puisi oleh guru. Jelas saja aku langsung menolaknya. Aku katakan,” Kalau lomba menulis aku mau, puisi….Sepertinya itu, aku tidak mau deh. ” Teman, yang mendengar perkataanku bilang,” Ya, udah, nanti ngomong langsung aja kepada Kepala sekolah,” dengan tersenyum karena melihat komentarku yang spontan. Oh, Teman…. Aku yakin, aku sebenarnya bisa hanya saja aku tidak mau ikut (walaupun berbagai alasan diberikan).


Pagi ini materinya adalah puisi. Dibanding kelas atas, materi kelas dua lebih ringan dan tentu saja aku senang mendapatkan kondisi yang seperti itu. Kutanyakan kepada anak,” Siapa yang hapal satu puisi?” Beberapa anak dengan wajah riang langsung mengangkat tangan dan berkata,” Bunda, aku hapal. Judulnya ‘Ibu’” Kupanggil saja anak itu ke depan kelas, Aris namanya. Aris itu adiknya Angga, siswa di kelasku dulu. Dengan kupeluk Aris dari belakang, Aris mulai membaca puisi. Sederhana sekali isi puisi itu. Seperti ini isinya :

Ibu

Kau mendidikku

Membesarkanku

Hanya 4 baris, tapi maknanya begitu indah. Ibu.

Aku tanya kembali, ” Ketika kalian mendengarkan puisi ini, apa yang kalian rasakan?”

“Sedih, Bunda!” Teriak anak laki-laki dari belakang.

” Ya, kalau kita menghayati puisi itu, kita bisa menangis lho.” Aku coba buat puisi dengan rasa ‘sedih’ setelah itu aku membuat puisi dengan rasa yang berbeda, gembira. Ah, lagi-lagi kucing sebagai objek puisiku.

Lincah

Berlari kecil

Bermain ekor induknya

Suaranya mengeong

Ruangnya hidup

Kecil, abu-abu putih

Kucing kesayanganku

Kukejar ia, dia berlari

Kukejar lagi, dia lari lagi

Duh, lucunya kucingku

:)

Hah, pengalaman bersama kucing di rumah ternyata membawaku menikmati setiap mengajar di kelas rendah ini. Semua pengalaman itu mengantarkanku untuk terus mengapresiasikan semua yang kumiliki. Bahagia rasanya ketika seorang anak kelas atas (yang pernah kuajari dulu) berkata,” Bunda, kata adik kucing Bunda meninggalnya.” Mereka ingat dengan apa yang kusampaikan, Teman. Bahagianya ^_^

Cinta Itu Kembali: 11 Tahun Resign, Kini Kembali Mengajar

  Alhamdulillah, dunia akademik mulai kujalani kembali pada awal tahun pelajaran 2026/2027. Setelah sekian lama resign menjadi guru, tahun i...