Navigasi

Resensi Dongeng 1001 Malam

Review Jas Hujan Buat Abi

Dari Blog, Aku Belajar Banyak Hal

Tiga Cara untuk Memaknai Kemerdekaan di Masa Kini

 

Negara ini baru saja merayakan kemerdekaannya yang ke-76. Kita pun ikut memeriahkannya meskipun tidak semeriah sebelum pandemi hadir. Lomba yang biasanya diadakan di tiap kelurahan tidak ada lagi. Namun, saya masih bangga dengan banyaknya warga yang memasang bendera merah-putih di depan rumah. Ditambah lagi umbul-umbul berwarna-warni di dekatnya.


Hinggar-binggar memeriahkan kemerdekaan menular kepada ketiga bocah saya. Mereka ikut serta dalam merangkai bendera merah-putih plastik, yang berukuran kecil di sebuah kawat kecil dan panjang. Mereka berlarian merangkainya hingga selesai. Akhirnya jadilah depan pagar kami dipenuhi oleh rangkaian bendera merah-putih dan bendera besar di sisi kanan pagar.


Jauh sebelum perayaan 17 Agustus itu, kami sudah menyelesaikan cerita yang berjudul Cut Nyak Dien. Mereka ikut merasakan gejolak perjuangan pahlawan itu. Dari cerita itu, para bocah bertanya banyak hal. Mereka belajar bahwa merdeka itu bukanlah sekedar kata, tetapi perjuangan panjang.


Para bocah pun mulai bertanya saat Presiden Jokowi mengadakan upacara bendera di pagi hari. Memang tidak banyak yang ikut dalam perayaan itu, tetapi upacara bendera tetap hikmat dan begitu bermakna. 


Pertanyaan para bocah pun mulai terangkai.

"Bu, kenapa harus upacara ya?" 


Dari pertanyaan itu, saya hanya bisa menjelaskan bahwa upacara itu memang hanya peringatan, tetapi makna upacara itu adalah menghargai dan menghormati perjuangan yang dilakukan pahlawan kemerdekaan.


Lalu ...

"Apa kemerdekaan itu ya, Bu?" tanya mereka kembali.


"Merdeka itu adalah kata penyemangat agar kita keluar dari bentuk penindasan penjajah di masa lalu."


"Hari ini hari kemerdekaan. Kalian tahu hari kemerdekaan itu?" tanyaku.


Setelah melihat reaksi mereka, saya mencoba untuk memberi penjelasan sesuai usia mereka.

Bahwa hari kemerdekaan itu adalah hari yang menandakan bahwa diri kita sudah terbebas dari 'penjajah' di masa lalu. Hari itu pula kita mengingat jasa para pejuang bangsa. Hari kemerdekaan adalah hari di saat kita tidak lagi takut diperdaya penjajah.


Saya mencoba menjelaskan arti merdeka kepada para bocah secara sederhana. Namun, yang jelas hari kemerdekaan adalah hari keberuntungan bagi penerus bangsa ini karena tidak harus bersimbah darah dan hidup dalam ketakutan.


Begitulah, perayaan kemerdekaan 76 tahun RI. Sebagai warga RI yang baik, kita bisa memaknai kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. 


Pertama, kemerdekaan itu diperoleh dan diperjuangkan oleh pahlawan tanpa memikirkan harta dan tubuh mereka. Oleh karena itu, lakukan hal yang positif untuk mengingat perjuangan mereka. Lakukan kebaikan untuk negara ini. Misalnya, kamu bisa bebas berpendapat dan berbuat asalkan sesuai dengan kaidah dan norma yang ada di masyarakat. Jangan melanggar aturan karena perjuangan untuk merdeka pun memiliki strategi tertentu.


Kedua, merdeka itu harus membebaskan diri dan pikiran dari hal-hal negatif. Kreatiflah dalam menciptakan budaya dan karya untuk negeri ini. Jangan terpedaya oleh perkataan negatif yang datang.


Ketiga, memaknai merdeka, yaitu ikut serta dalam pengentasan masalah lingkungan, keamanan, sosial, hukum, dan pendidikan budi pekerti dan akhlak.


Slogan perayaan 76 tahun RI, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh membakar semangat kita agar tabah dalam keadaan yang sedang berlangsung. Slogan kemerdekaan itu mengajak kita bertahan dalam menghadapi pandemi. 


Rakyat Indonesia harus tumbuh dan berkembang. Rakyat Indonesia harus terus berkembang keilmuannya sehingga bisa memberi kontribusi bagi bangsa ini. Bangsa yang besar berawal dari generasi yang mau menghargai perjuangan pendahulunya.



Harapanmu akan Membesarkan Nama Blogmu




Siapa sih yang nggak punya harapan atau impian? Nggak ada ya. Sama juga dengan ngeblog, pastinya si empunya blog memiliki harapan yang besar dengan blog yang telah dirawatnya selama ini. Kalau kamu sendiri bagaimana? Hehehe ... semestinya aku yang menjawab ya.


Baiklah, aku akan mencoba menjawabnya dengan hati. Ceileee.... Seperti niat awal aku ngeblog itu adalah berbagi, maka harapan terbesarku pada blogku yang receh ini adalah berbagi juga. Hanya saja, aku ingin jangkauan berbagiku lebih luas lagi.


Amazing banget ya kalau mendengar harapan itu, tapi nggak masalah bagiku. Iya kan? Setiap orang harus memiliki harapan besar dari perbuatan kecil yang dilakukannya.


Dengan harapan, kita bisa bergerak. Dengan harapan yang tulus dan masuk akal, kita bisa menghargai kemampuan kita. Aduh, muluk nggak sih harapanku itu?


Aku rasa wajar untuk lebih memperkenalkan keberadaan blog kita kepada masyarakat umum. Iya kan? Bisa jadi tulisan yang kita sematkan lewat blog yang kita kelola akan mengalir pahala jariyah. Siapa tahu lewat blog kita orang tergugah melakukan sesuatu yang baik dari kampanye yang kita tuliskan.


Nah, untuk mewujudkan harapanku itu, aku telah melakukan beberapa cara. Caranya sederhana sekali. Salah satunya adalah menshare tulisan yang ada di blog melalui beberapa aplikasi yang sering dan ramai digunakan. Aplikasi apa itu? Aplikasi yang tentunya ada di ponsel aku ya, seperti facebook, twitter, whatsapp, dan instagram.


Terus, adakah cara lainnya? Oh, tentu ada ya. Aku juga berbagi tulisanku melalui kompetisi blog, seperti sekarang ini. Dengan terlinknya blogku pada satu blog lain, ada kemungkinan tulisanku akan banyak dibaca oleh orang.


Ngeblog yang aku lakukan tidak melihat statistik loh ya karena aku tidak begitu mengerti masalah perstatistikan ya. Hanya saja bagan statistik yang pasti tampak saat membuka blog membuatku tercenggang pada pencapaiannya di suatu waktu. Artinya, blogku masih dilirik euy. Sebatas itu pun sudah membuatku senangnya nggak ketulungan. Apalagi jika berhasil memenangkan lomba blog. Harapanku semakin besar lagi. 😁



Blogger Perempuan

Nitu Tidak Pernah Salah

 #1

Pertemuan Pertama


"Mengapa Ibu mau membuangnya? Apa salahnya, Bu?" protes Izzah, bocah kelas empat SD ini saat tahu Nitu akan dibuang. Perasaannya hancur. Baru seminggu kucing kecil itu tinggal di rumahnya, kini dia ingin dibuang. Rasa sayang kepada Nitu sudah mulai terasa di hati. Ibu tidak tahu atau tidak mau tahu.


***

"Len, kamu dengar suara kucing nggak?" tanya Izzah sambil mencari sumber suara di tepi jalan yang dilaluinya.


"Iya, sepertinya suara berasal dari sana," ujar Leni, teman sekelas yang rumahnya satu arah dengannya. 


Mata Izzah terus mencari hewan yang terus mengeong itu, di tepi jalan, di seberang jalan, tetapi tidak ditemukan. Keduanya mondar-mandir di sana. Untung saja jalanan itu tidak terlalu ramai sehingga sumber suara pun ditemukan. Seekor kucing kecil berwarna kuning sedang duduk di tepi saluran air. Bulunya tampak basah dan menggigil.


"Kita bawa pulang yuk, Len. Kasihan kucingnya," ujar Izzah sambil turun ke dalam saluran air yang agak mengering. Bajunya kotor. Leni meletakkan kucing itu di tepi jalan dan duduk sebentar di sana.


Izzah dari dulu sangat menyukai kucing. Izzah ingin sekali memelihara kucing, tetapi Ibu selalu menolak keinginannya. Izzah menawarkan kucing itu kepada Leni.


"Di rumahku sudah ada empat kucing, Zah. Kalau ditambah satu ini, Ibu pasti marah kepadaku," tolak Leni. Leni juga menyukai kucing. Hampir setiap ada kucing jalanan, dia ingin selalu membawanya pulang. Namun, Ibu melarangnya karena suara kucing yang mengeong di pagi hari membuat Ibu tidak tenang. Kalau sudah mendengar suara kucing, artinya sudah ada makanan untuk mereka.


"Ribet, Zah. Melihara empat kucing itu kata Ibu sama seperti melihara empat anak. Ditambah aku yang cerewet, jadi lima. Ibu tidak mau lagi nambah anak," jawab Leni tertawa. Dia menirukan ucapan Ibunya tempo hari.


"Terus, kucing ini bagaimana?" tanya Izzah bingung.


"Ya, kamu saja ya bawa pulang. Kan kamu suka dengan kucing," anjur Leni.


Sebenarnya Izzah sangat ingin memelihara kucing, Leni tahu itu. Namun, dia tidak bisa berkata apa-apa jika Ibu yang melarangnya. Ayah pun akan kalah jika Ibu sudah berkata. Gaya bicara Ibu luar biasa, membuat orang yang mendengarnya jadi terdiam.


"Coba dulu aja, Zah. Barangkali Ibumu mau menerima kucing kecil ini. Lihatlah, kasihan dia! Kalau dia dimandikan dan dirawat dengan baik, pasti akan cantik dan akan bermanfaat sekali. Seperti si Onengku, dia bisa menjadi teman kalau aku dimarahi Ibu," rayu Leni.


Sepertinya, Izzah harus melakukan apa yang dianjurkan oleh Leni. Mungkin saja Ibu mau menerima kucing kecil ini. 





 


JNE di Hati, JNE Dinanti

  Bermain balok "Senang banget Ummi melihat kalian seperti ini, bekerja dan bermain bersama dengan penuh canda tawa. Rumah jadi tenang,...