Navigasi

Nitu Tidak Pernah Salah

 #1

Pertemuan Pertama


"Mengapa Ibu mau membuangnya? Apa salahnya, Bu?" protes Izzah, bocah kelas empat SD ini saat tahu Nitu akan dibuang. Perasaannya hancur. Baru seminggu kucing kecil itu tinggal di rumahnya, kini dia ingin dibuang. Rasa sayang kepada Nitu sudah mulai terasa di hati. Ibu tidak tahu atau tidak mau tahu.


***

"Len, kamu dengar suara kucing nggak?" tanya Izzah sambil mencari sumber suara di tepi jalan yang dilaluinya.


"Iya, sepertinya suara berasal dari sana," ujar Leni, teman sekelas yang rumahnya satu arah dengannya. 


Mata Izzah terus mencari hewan yang terus mengeong itu, di tepi jalan, di seberang jalan, tetapi tidak ditemukan. Keduanya mondar-mandir di sana. Untung saja jalanan itu tidak terlalu ramai sehingga sumber suara pun ditemukan. Seekor kucing kecil berwarna kuning sedang duduk di tepi saluran air. Bulunya tampak basah dan menggigil.


"Kita bawa pulang yuk, Len. Kasihan kucingnya," ujar Izzah sambil turun ke dalam saluran air yang agak mengering. Bajunya kotor. Leni meletakkan kucing itu di tepi jalan dan duduk sebentar di sana.


Izzah dari dulu sangat menyukai kucing. Izzah ingin sekali memelihara kucing, tetapi Ibu selalu menolak keinginannya. Izzah menawarkan kucing itu kepada Leni.


"Di rumahku sudah ada empat kucing, Zah. Kalau ditambah satu ini, Ibu pasti marah kepadaku," tolak Leni. Leni juga menyukai kucing. Hampir setiap ada kucing jalanan, dia ingin selalu membawanya pulang. Namun, Ibu melarangnya karena suara kucing yang mengeong di pagi hari membuat Ibu tidak tenang. Kalau sudah mendengar suara kucing, artinya sudah ada makanan untuk mereka.


"Ribet, Zah. Melihara empat kucing itu kata Ibu sama seperti melihara empat anak. Ditambah aku yang cerewet, jadi lima. Ibu tidak mau lagi nambah anak," jawab Leni tertawa. Dia menirukan ucapan Ibunya tempo hari.


"Terus, kucing ini bagaimana?" tanya Izzah bingung.


"Ya, kamu saja ya bawa pulang. Kan kamu suka dengan kucing," anjur Leni.


Sebenarnya Izzah sangat ingin memelihara kucing, Leni tahu itu. Namun, dia tidak bisa berkata apa-apa jika Ibu yang melarangnya. Ayah pun akan kalah jika Ibu sudah berkata. Gaya bicara Ibu luar biasa, membuat orang yang mendengarnya jadi terdiam.


"Coba dulu aja, Zah. Barangkali Ibumu mau menerima kucing kecil ini. Lihatlah, kasihan dia! Kalau dia dimandikan dan dirawat dengan baik, pasti akan cantik dan akan bermanfaat sekali. Seperti si Onengku, dia bisa menjadi teman kalau aku dimarahi Ibu," rayu Leni.


Sepertinya, Izzah harus melakukan apa yang dianjurkan oleh Leni. Mungkin saja Ibu mau menerima kucing kecil ini. 





 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silakan berikan pendapatmu disini ya ^^

JNE di Hati, JNE Dinanti

  Bermain balok "Senang banget Ummi melihat kalian seperti ini, bekerja dan bermain bersama dengan penuh canda tawa. Rumah jadi tenang,...