Navigasi

Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Cinta Itu Kembali: 11 Tahun Resign, Kini Kembali Mengajar

 

Belajar


Alhamdulillah, dunia akademik mulai kujalani kembali pada awal tahun pelajaran 2026/2027. Setelah sekian lama resign menjadi guru, tahun ini aku mulai merasakan cinta itu kembali. Cinta itu mulai menghiasi ruang hidupku.


Sebelas tahun resign dari mengajar di sebuah sekolah tidak membuatku berhenti untuk mencurahkan semua hobi, pendapat, dan kegelisahanku di masyarakat. Meskipun secara formal aku tidak tercatat di sebuah instansi, tangan dan kakiku bergerak jauh dari apa yang bisa kubayangkan.


Tanganku sudah melesat entah sampai ke negara mana lewat tulisanku. Kakiku sudah melangkah berapa kali untuk membersamai ketiga putra putriku dalam menempuh pendidikan mereka. Jejakku bukan hanya di kampung halaman, tetapi nun jauh di sebuah desa di ujung Sumatera Selatan pun ada di sana.


Allah Maha Kuasa dan Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Rasa syukur itu makin kuat saat aku menilik ke belakang saat aku resign dan merelakan pekerjaanmu demi keluarga tercinta. Kurelakan kecintaanku pada dunia pendidikan untuk mendidik putra-putriku. 


Awalnya, diriku dilanda kesedihan yang mendalam. Namun, akhirnya aku berdamai dengan keinginan itu. Aku menerimanya dengan semua takdir Allah yang tidak pernah aku ketahui.

"Kita tidak pernah tahu rencana Allah, tapi aku yakin inilah yang terbaik dari Allah untukku."


Perjalanan panjangku bersama anak-anak hingga si sulung sudah masuk pesantren, si tengah kelas 6, dan si bungsu kelas 3. Semua kami lewati bersama. Aku tahu perkembangan mereka. Aku melihat sendiri marahnya mereka, kesalnya mereka, cerianya, serta yang lain. Semua tergambar di hati meskipun tidak tertulis di blog ini.


Rekap perjalanan kami sering kusajikan dalam video-video di youtube. Kegiatan kami sering aku share di instagram, facebook, dan tiktok sebagai bagian perjalanan yang tidak ingin kulupakan. Tak bisa kubayangkan jika aku masih bekerja dengan ritme kerja yang padat. Aku tidak akan sempat menstimulasi motorik, verbal, kognitif mereka. 

Inilah video mereka yang kureka saat kegiatan Jum'at pagi.


Alhamdulillah, Allah Maha Tahu segalanya, tahun ini menjadi tahun aku belajar kembali. Aku belajar dari 0 dan aku yakin aku akan banyak belajar dari para muridku. Mereka pun akan belajar dari keseharian kami. Kami akan belajar bersama di sini, sebuah lembaga yang kuanggap seperti keluarga.

  

Aku berharap akan terus menjadi bagian dari dunia pendidikan. Aku prihatin dengan keadaan generasi muda yang hanya mementingkan akademik, tetapi minim adab. Aku ingin murid-muridku mengerti tentangnya agar ketika mereka tumbuh besar adab itu tetap terjaga.


Selamat datang murid-muridku, mari kita isi dengan kebaikan dan mewarnai hari-hari kita dengan kebaikan itu. Semoga Allah meridhoi apa yang kita lakukan. Banyak cinta untuk kalian semua.

Menulis Mengurangi Stres: Ceritaku Tumbuh Bersama IIDN

 

Anniversary IIDN


Aku bukan penulis handal. Aku pun belum memiliki banyak prestasi, tetapi aku ingin terus meningkatkan keterampilanku menulis serta terus mengasah kognitifku agar tidak terpendam jauh karena rutinitasku sebagai ibu rumah tangga. Karena itu, aku ingin mencari wadah yang bisa menampung keinginanku itu.


Ada banyak wadah yang bisa digunakan oleh penulis receh sepertiku. Mereka menyediakan tempat bagi orang sepertiku untuk berbagi cerita dan pengalamannya. Kulihat di sana mereka sering mengadakan kegiatan secara offline juga. Nama tempat itu adalah IIDN singkatan dari Ibu-ibu Doyan Nulis.

Konsistensi Menulis: Perjuangan dan Kemanfaatan di Bulan Puasa

Menulis
Foto oleh energepic.com: https://www.pexels.com/

Kadang saya suka iri dengan seorang yang kondisi keluarganya tergolong kurang mampu secara ekonomi, tetapi tidak mau berutang. Kadang, saya juga suka iri dengan orang yang terus menulis tanpa dibayar. Kadang, saya iri dengan orang yang berhasil ikut berbagai event menulis dengan konsisten. Lalu, saya bertanya sendiri,"Kenapa saya tidak seperti mereka?"


Pertanyaan menggelitik itu kadang hadir tanpa diminta dan memerlukan jawaban dari diri ini. Pertanyaan yang membuat saya menggigit jari karena ketidaktahuan alasannya. Alasan klasik seperti kelelahan tidak bisa diterima akal. Orang yang punya kerjaan banyak saja bisa terus menulis dengan konsisten, masa' kamu tidak bisa? Tuh, kan bertanya lagi!

SAUS dari Reza Riyady Pragita Mengalirkan Air Kehidupan di Desa Karangasem, Bali

SAUS Ala Reza


Seorang perempuan separuh baya berjalan dengan membawa derijen air menuju rumahnya yang jaraknya 5 km. Peluh membasahi seluruh pakaiannya, tetapi kaki terus melangkah demi membawa beberapa derijen air ke rumah. Tidak hanya wanita itu, banyak wanita lain yang berjalan membawa air dengan membawa lampu senter dalam kegelapan. Mereka semua adalah perempuan tangguh dari Karangasem, Bali.


Jika teman melihat perjuangan para wanita di sana, maka kalian akan tercengang. Wanita-wanita itu bukan hanya bekerja di rumah, mereka juga menjaga stabilitas finansial bagi keluarga dalam bentuk mencari air bersih. Meskipun jarak yang akan mereka tempuh jauh, medan yang dilalui berbukit dan berbatu, mereka tetap menjalaninya.

Kisah Ayu Fauziyyah Adhimah Dalam Mengedukasi Gizi di Indonesia Melalui Pojokgizi.id

 

Ayu Fauziyyah Adhimah


Miris, ketika kuliah saya mendengar kisah seorang yang melakukan diet ketat hingga berakibat kematian. Diet yang dilakukannya dengan mengonsumsi obat-obatan sehingga membuatnya mengalami diare dan muntah terus. Dia kehilangan cairan tubuh secara drastis. 

Ada lagi kisah seorang influencer yang ingin diet dengan tidak makan nasi dan karbohidrat. Sehari-harinya dia hanya mengkonsumsi sayur-saturan dan buah-buahan. Dengan program diet yang dia lakukan itu, dia akhirnya meninggal. 

Mandi Menyenangkan dengan Shampo Dee Dee dari Yuri Indonesia

 

Produk Dee Dee Yuri Indonesia

Mandi

Mandi menjadi rutinitas kita sehari-hari mulai dari bayi hingga lansia. Banyaknya aktivitas yang dilakukan di luar atau di dalam rumah seringnya membuat tubuh terasa tidak nyaman, lengket, gerah atau apa pun namanya. Ketidaknyamanan itu menjadikan kita mencari cara untuk meredakannya. Mandi, itu jawabannya.

Orang yang terbiasa mandi 2 kali sehari akan merasa tubuhnya sangat lelah, tidak nyaman bila tidak membasahi tubuhnya dengan air. Kebiasaan membersihkan tubuh ini memberikan dampak yang baik bagi kesehatan. Bahkan mandi sebelum subuh dikatakan bisa melancarkan peredaran darah loh.

Cinta Itu Kembali: 11 Tahun Resign, Kini Kembali Mengajar

  Alhamdulillah, dunia akademik mulai kujalani kembali pada awal tahun pelajaran 2026/2027. Setelah sekian lama resign menjadi guru, tahun i...