Navigasi

Pertolongan Allah itu Cepat dan Nyata

 

Perjalanan panjang
Foto oleh Darwis Alwan/pexels.com


Ingatan saya kembali ke belasan tahun silam saat saya mulai bekerja di sebuah yayasan pendidikan besar di Palembang. Sebuah outbond telah dirancang oleh guru untuk para guru baru seperti diri saya.


Kami tiba di lokasi ketika matahari sore mulai tenggelam. Sepanjang mata memandang, lokasi itu ditumbuhi pohon alias kebun yang tidak terawat. Saya dan semua peserta lain langsung meletakkan tas dan perlengkapan yang harus dibawa dari rumah ke sebuah rumah kosong. 


Setelah selesai, panitia mengajak kami untuk berkumpul di sebuah tempat yang lapang, tak jauh dari rumah singgah tadi. Di sana, panitia memberikan instruksi kepada semua panitia tentang outbond.


Saya yakin sebelum outbond ini dimulai, panitia pasti sudah melakukan persiapan. Persiapan menyisir lokasi dari hal-hal yang berbahaya. Akhirnya, dengan penuh semangat panita dan peserta melakukan outbond. 


Para peserta diajak menyusuri jalan dengan petunjuk yang telah dibuat panitia. Tibalah giliran saya, setelah beberapa lama berjalan, kebingungan menghinggapi pikiran saya. Saya agak ragu dengan arah yang saya tempuh. 


Petunjuk, mana petunjuknya, saya tidak melihatnya! Ah, saya meraba wajah saya. Ternyata kacamata saya tertinggal di kantong tas ransel! Tidak mungkin panitia membiarkan peserta menerabas rerumputan yang tingginya melebihi tinggi badan saya.


Keraguan itu sempat membuat saya ingin kembali ke jalan tadi, tapi saya urungkan karena masih berpikir positif kalau saja di depan nanti ada petunjuk dari panitia. Saya prediksikan kalau saya sudah lama berjalan dan seharusnya sudah kembali ke tempat semula. Nyatanya saya masih terus berjalan tanpa bertemu dengan seorang manusia pun.


Yang saya temukan pada saat itu adalah sebuah gubuk, dengan lampu yang menyala di depan gubuk itu. Saya ingin mengetuk pintu gubuk itu, tetapi hati saya mengatakan jangan dan teruslah berjalan. Dengan pikiran yang sudah bermacam-macam, seperti bagaimana kalau saya ketemu laki-laki. Ah, ada stok untuk memukul mereka yang jahat.  Lalu, pikiran itu saya buang jauh-jauh sambil terus 


Perjalanan dilanjutkan kembali hingga saya melewati sebuah pohon yang besar. Sesaat kemudian, terasa hawa hangat dari gelas ketika saya melewati pohon besar tadi. Mulailah saya menenangkan diri sendiri bahwa di depan nanti ada petunjuknya. Di sepanjang jalan yang saya lalukannya,  tak seorang panitia ada di sana. Saya membaca 3 surat (tiga qul) tanpa bersuada. 


Sekelapak pikiran buruk masuk di dalam kepala saja. Lalu, saya tepis. Saya pasrah, saya hanya berdoa agar Allah menolong saja. Tak lama kemudian saya menemukan 2 jalan, kiri dan kanan. Entah mengapa saya memilih jalan ke kiri. 


Perasaan takut yang tadinya ada hilang. Saya hanya menggantungkan harapan kepada Allah. Saya melihat sesuatu yang bergerak dan  bersuara di tengah jalan. Ternyata itu panitia. Ya, Allah. Perasaan campur aduk saya rasakan kala itu. Namun, pegangan saya adalah Allah. 


Kejadian itu terjadi di malam hari. Terus terang saat itu saya benar-benar menggantungkan harapan kepada Allah. Saya yakin Allah akan menolong saya yang sedang tersesat. Benar, Allah membantu saya untuk tetap rasional pada apa pun yang terjadi.


Doa agar Allah menolong saya dan membuat saya tegar dalam perjalanan tersesat tadi. Rasa penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah menjadi hal yang tak terbayangkan saat itu. Allah pun menjawab doa-doa saya.


Jika ada orang yang sombong karena perilakunya, maka biarkan nanti di yaumil hisab, semua perilaku Allah pandai lagi.




1 komentar:

  1. Haiish, aku ga berani kalo udah hrs menyisiri tempat yg ga aku kenal begini, malam pula dan sendirian mba. Krn aku benar2 buta arah. 😄. Yg ada panik sih . Jadi dah pasti ga bakal ikutan atau berdua perginya 🤭

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung. Silakan berikan pendapatmu disini ya ^^

JNE di Hati, JNE Dinanti

  Bermain balok "Senang banget Ummi melihat kalian seperti ini, bekerja dan bermain bersama dengan penuh canda tawa. Rumah jadi tenang,...