Navigasi

Ammar bin Yasir, Si Penghuni Surga

Penghuni Surga Ammar


Identitas Buku

Judul: Karakteristik Perihidup 60  Sahabat Rosulullah

Penulis:Khalid Muhammad Khalid

Penerbit: Diponegoro, Bandung

Jumlah Halaman: 704 halaman


Seorang pemuda yang lahir dari wanita mulia, yang telah merelakan nyawanya demi kebenaran telah Allah swt. selamatkan. Ammar bin Yasir menjadi contoh dan teladan bagi kita bahwa keimanan itu haruslah dijaga. Yang teguh dengan kebenaran ini lahir dari rahim seorang syahidah, Sumayyah dan Yasir.


Ibunya yang seorang budak, disiksa dengan siksaan yang amat mengerikan karena keislamannya. Namun, keteguhan hati dari keluarga Yasir ini tidak menghentikan  langkah mereka memegang teguh kebenaran hingga ruhnya kembali kepada Allah swt.


Siksaan Yang Dialami Ammar bin Yasir



Yasir pun menghadapi hal yang serupa dengan ayah dan ibunya. Kekejaman orang-orang kafir terhadap pemuda gagah dan bermata biru ini membuat dada saya tercekat karena menahan sedih. Manalah hati tak sedih mengingat kekejaman seorang saudara seislam seperti itu. 


Inilah siksaan kejam yang dilakukan oleh musyikin kepada Ammar bin Yasir. Tubuhnya diletakkan di padang pasir. Di punggungnya ditekan sampai dadanya sesak. Tubuhnya dibakar dengan besi panas, ditindih dengan batu, lalu disalib di atas pasir panas dan ditenggelamkan ke dalam air hingga membuat kulitnya mengelupas. 


Akibat siksaan itu, tubuhnya kelelahan. Orang-orang kafir mengajak Ammar bin Yasir untuk memuja tuhan mereka. Dalam keadaan tidak sadar itu, terucaplah kata-kata itu oleh Ammar bin Yasir. Begitu sadar, dia merasa marah dan sedih. Dia merasa menjadi orang yang berdosa dan dosanya tidak diampuni Allah.


Saat merasa seperti itu rosulullah saw. melihat datang menemui beliau. Beliau  mengatakan bila orang kafir itu menyuruh untuk mengucaplan hal seperti tadi, ucapkan saja asal hatimu mengingkarinya. Sebuah ketenangan jiwa dirasakan oleh Ammar.


Dalam peristiwa itu Rosulullah saw. mengajarkan kepada siapa pun orang Islam yang terpaksa untuk berbuat apa yang menyebankan jiwa seseorang melayang karenanya, maka tak mengapa melakukan hal itu asalkan hati tetap memegang keimanan. Sebab, selemah-lemahnya iman seseorang adalah menyakinkan di dalam hati bahwa sesuatu itu tidak baik dan Allah swt. mewahyukan hal tersebut pada QS. An Nahl: 106.


Kedudukan Ammar bin Yasir di Hati Rosulullah saw.

Larangan memusuhi Ammar


Ketika perselisihan antara Khalid bin Walid dan Ammar bin Yasir, rosulullah saw. bersabda,"Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah."


Bahkan rosulullah saw. menyatakan kesayangan beliau ini dengan menyebut Ammar bin Yasir sebagai biji mata beliau. Rosulullah pun meminta kisah tentang Ammar bin Yasir dapat dijadikan oleh orang lain sebagaimana sabda beliau.

"Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti Abu Bakar, Umar ... dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan."


Pada masa Umar bin Khathob, Ammar bin Yasir diangkat sebagai wali negeri Kufah dengan Ibnu Ma'sud sebagai bendahara. Pangkat dan jabatan beliau tidak  bertambah kecuali keshalihan, zuhur, dan rendah hati.


Selama menjadi amir di Kufah, Ibnu Abil Hudzail, Ammar membeli sayuran di pasar; memikulnya, dan membawa kembali siksa mereka. Berbeda sekali dengan pemimpin sekarang ini, bukan?


Pada saat menjadi amir ini  beliau diejek karena telinganya terpotong. Namun, Ammar bin Yasir bangga pada keadaannya tersebut. Kejadian telinganya terpotong ini terjadi saat dia ikut berperang di Yamamah.


Akhir Kehidupan Ammar bin Yasir

Banyak yang bisa dicontoh


Saat mendirikan masjid di Madinah, Ammar mengangkat batu besar dari tempatnya ke perletakkannya. Saat itulah rosulullah saw. memberitahukan bahwa kelak Ammar bin Yasir akan dibunuh oleh golongan pendurhaka. 


Bukannya merasa sedih mendengar ramalan rosulullah saw. itu, Ammar merasa tidak gentar. Masa terus berlalu. Pemerintah dipimpin oleh Abu Bakar, lalu Umar, Utsman, dan Ali. 


Pada masa Ali menjabat sebagai khalifah, pemberontakkan yang bermula di masa Utsman kini berlanjut pada masa Ali. Pemberontak seperti Muawiyah yang ingin merebut kekuasaan Ali akhirnya. Ammar berada di sisi Ali.


Setelah kejadian itu, pada perang Shiffin (memerangi bani Umayyah yang musyrik),  Ammar masih ikut berperang meskipun usinya 93 tahun. Dengan gagah berani dengan semangat. Dia berdoa,"Aku berlindung kepada Allah dari fitnah. Doa ini diucapkannya sejak rosulullah saw. wafat.


Begitulah Ammar bin Yasir. Seumur hidupnya dia memegang teguh kebenaran. Meskipun usianya sudah lanjut, dia tetap memilih untuk mendampingi Ali karena dia yakin kalau Ali berada jalan yang benar. Pada perang Shiffin inilah Ammar terbunuh dan apa yang dikatakan  oleh rosulullah, Ammar akan dibunuh oleh para pendurhaka adalah benar.


Ali sendiri yang memangku Ammar untuk disholatkan bersama kau muslimin lainnya. Benar, surga telah merindukan dia. Apa yang telah diucapkan oleh rosulullah pun terwujud.


Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini. Saya sendiri sangat senang anak-anak memiliki kegiatan pembiasaan yang baiknya. Misalnya, suka usil terhadap teman atau saudara. 


Kita pun tidak boleh takut atau gentar saat terjadi pertikaian. Jika kita merasa bahwa sesuatu itu benar, maka ikutilah. Keteguhan Ammar bin Yasir pun menjadi contoh bagi kita. Ramalan yang disampaikan oleh rosulullah saw. pun tidak membuatnya gentar dalam menjalankan hidup, tetapi menjadikan dia menjadi sosok yang tak gentar.


Saya pikir kisah para sahabat ini sangat perlu kita sampaikan kepada anak-anak sejak dini. Mereka akan banyak belajar dari kisah-kisah itu. Bahkan ajaklah diskusi. Dengan diskusi itu akan terbentuk kuatnya pola pikir seseorang. Terbukti, anak-anak saya menikmati sesi bercerita ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silakan berikan pendapatmu disini ya ^^

JNE di Hati, JNE Dinanti

  Bermain balok "Senang banget Ummi melihat kalian seperti ini, bekerja dan bermain bersama dengan penuh canda tawa. Rumah jadi tenang,...